Nanti dan nanti ku terus menanti hingga malam tiba, di keheningan malam ini yang membuatku sedih sembilu rasa mengiris pedih di
relung hati bathin teriak dan ingin tumpahkan segudang tangis mengapa
jadi perih hati yang sakit dan terasa miris, ragam rasa berkecamuk di
dalam jiwa.
Untuk kesekian kalinya selalu saja masih terjaga ditengah gelap malam, masih saja jiwa ini
selalu resah, ikatan mimpipun tak kan mampu menahan lelapku, dimana hati
ini sudah dalam kehampaan karena lalunya bayangmu dalam hidupku.
Raga ku tak mampu untuk membias
semua hasrat yang membungkus hati, karena cinta ini terpatri untukmu... sahabatku... . ketika aku mencintaimu, tak sabar untuk menanti sang surya, semangat dalam diri menyambut hari esok untuk menghadap salah satu makhluk terindah yang di ciptakan Tuhan.
Yang terasa perih dalam jiwa ini disaat ku tahu cintamu bukan untuk ku, melainkan untuk dia yang mendekam di hatimu. kau hanya menganggap ku sebagai sahabat. tanpa kau tahu cinta yang bersembunyi di sanubari ku, karena tulusnya cinta ku untukmu . . sahabatku . .
Aku memang rapuh saat kau tinggalkanku,
seakan berhenti seluruh harapku membisu, andai bisa ku sibak tabir dunia, akan ku cari dirimu meski menembus waktu, agar kau tahu aku tak berdaya tanpamu, aku memang tak sanggup menerima takdir ini, seakan tak ada denyut lagi di syaraf nadi.
Namun biarlah ku simpan sendiri. sahabatku, ku berharap kau mendengar rintihanku, rintihan yang selama ini menemani diriku. andai kau tau kasih, ini karna lukamu. ku merintih tak kenal waktu, sungguh pahit kurasa. tanpa hadirmu menambah derita, sesak, sakit, gundah, gulana ku rasakan.
Ingin ku mengungkapkannya kembali rasa cintaku padamu yang dari dulu hingga saat ini tak berkurang tapi lebih besar untukmu. namun aku takut jika rasa cinta ini tak terbalaskan kembali seperti sebelumnya, dan kamu lebih memilih dia yang terus meragukan rasa cintamu.
Rintihan yang tak terduga dari sekeping hati menangis dalam jiwa, mungkin kau tak tahu itu,
bahkan tak bisa menyadarinya. dengan ungkapan jiwa yang meronta, tertusuk jiwa yang menguras darah, sampai ku tak menyangka kau melakukannya tanpa memikirkannya begitu terlukanya diriku.
Obat apa yang saya butuhkan untuk mengobati luka yang kurasakan kini. senyumanmu mungkin bisa mengobati rasa perih ini, namun itu semua tidak benar, dengan senyummu rasa perih ini kian menjadi, karena aku tak bisa memiliki senyuman yang terlukis indah dalam raut wajahmu.
Mungkin raga ku takkan menyerah tetapi hatiku pasti kan lelah, telah ku jalani semua rasa yang menyayat hati
yang merintih di gelap malam yang sunyi
sementara kau menjauh dan pergi, dapatkah kau sadari itu, menyadari rasa dalam hati ku, aku tak mengerti akan hati yang kau miliki. tetapi akhirnya aku tak akan menyerah pada hatiku.
Diamku bukan karena diammu, karena diam hanyalah tanpa diamku karena matinya dayaku, tapi aku diam bukan apa, jadi kubiarkan jiwaku tersudut disini, kubiarkan ragaku bergerak tanpa makna biar mataku menciptamu dari sepi kini, biar saja, terendam, terpendam, terpana.
Otakku entah mengapa terus membayangimu padahal belum tentu kamu membayangkan sama dengan apa yang aku pikirkan, hilang seketika semuanya asa ku padamu, rinduku padamu, hilang terbawa oleh tetesan air mata kelaraan batin yang luka.
Nampaknya aku mulai terasa menyadari adanya rasa yang menggebu-gebu dan ingin meluapkannya, tapi aku tak tahu apa yang ingin di katakan oleh hati ini. mungkinkan ini pertanda rasa cintaku yang dulu tumbuh kembali ?
Inginnya kamu menjadi pengisi ruang hati ini, aku begitu mencintaimu sahabatku, "NURYANI ROMDONI" ...
" WILL YOU BE MY FUTURE ?? "